Sebuah kisah pemuda, yang mendapat hikmah akibat menikah.
"Deden, elu kapan?" begitu kata teman-temannya ketika di acara pesta walimahan adik-adiknya.
“Nggak tau deh, nah elu matinya kapan? Haha….” Jawab Deden bercanda dan menyindir menutupi rasa kecewa dengan pertanyaan yang membosankan itu “kapan, kapan”
*-*-*-*-*-*-*-*-
Deden 33 tahun, Bujang lapuk, bekerja di sebuah Bank biasa/riba (konvensional), di bagian Kredit, berpenampilan rapi bin necis, hampir setiap hari bekerja bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan hutang konsumtif dengan bunga yang kini sudah diharamkan MUI.
Selain merasa bujang lapuk, Deden juga merasa tertekan, Dua Adik laki-lakinya sudah menikah lebih dahulu.
"Deden, elu kapan?" begitu kata teman-temannya ketika di acara pesta walimahan adik-adiknya.
“Nggak tau deh, nah elu matinya kapan? Haha….” Jawab Deden bercanda dan menyindir menutupi rasa kecewa dengan pertanyaan yang membosankan itu “kapan, kapan”
***
Bukannya Deden nggak laku, Cewek-cewek ada juga yang mendekati, Deden merasa senang dan akan menjadikannya pacar atau calon istri, tapi sayangnya dan Lebih sedihnya lagi, Deden sering cuma dijadikan tukang ojek oleh oknum cewek-cewek yang mendekatinya itu.
Deden baru sadar setelah mendapat saran dari Jajang teman dekatnya, teman yang sering meledek "Deden, kalau dia gagal jadi binilu, cewek elu itu oper ke gue ye hehe" Kata Temannya bercanda
"Ah rese lu Jang" kata Deden
"Becanda Deden..."kata Jajang sambil senyum.
Walaupun Jajang cuma bercanda, Deden merasa makin tertekan, raut wajahnya mendung gelap bagaikan tanda tanda akan datang hujan lebat dengan petir.
Melihat situasi mendung begitu Jajang memberi saran "Ntar malam jumat lu ikut gua nyok?"
"Ngapain?" kata Deden
"Ya ikut ngaji, masak malam jumat main Gundu" (baca: kelereng) kata Jajang
"oke deh, gue mau tanya-tanya sama ustadz elu" kata Deden
"Nah gitu dong, jangan main Gundu melulu, hehe" kata Jajang
***
Langit, kemerahan bercampur kuning dan oranye, tak lama setelah shalat maghrib di sebuah masjid.
"Assalamu�alaykum, Pak Ustad, kenalkan, ini si Deden mau ikut ngaji di sini" Kata Jajang
"Wa�alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah, silahkan dengan senang hati bila Deden mau hadir di setiap majelis taklim yang selalu dinaungi sayap malaikat rahmah" Kata Pak Ustadz
"Kok yang lain Belum pada datang, Pak" Kata Deden
"Ada satu lagi si Boding dia shalat di mushala kantornya, jadi dia masih di perjalanan" Kata Pak Ustadz
Tanpa menunggu si Boding yang terlambat, pengajian tetap dimulai tepat waktu untuk menghormati Hadirin yang datang On-time
Pengajian dibuka dengan membaca Al-Fatihah bersama-sama, lalu tilawah/ Membaca 1 Halaman untuk masing-masing.
"Waduh pak, saya nggak usah baca ye, saya kagok bacanya" Kata Deden
"Oh nggak apa-apa, walaupun masih kagok tetep dapet pahala" Kata Pak Ustadz
"Bukan begitu pak, saya malu nih, saya dulu pernah pesantren tapi sudah lama nggak baca AlQuran, jadi kagok pak" Kata Deden
"Oke malam ini, ente dengerin aje ye, minggu depan baru baca seingetnye, jangan khawatir, ente nggak bakal diketawain kalu salah" Kata Pak Ustadz
***
Selesai tilawah, Pak Ustad melanjutkan dengan sedikit ceramah. 7 Menit Ceramah, tiba pada acara ngobrol masalah diri dan ummat.
"Ada pertanyaan?... Deden apakah ada uneg-uneg yang mau ditanyakan? Kata Pak Ustadz
"...Ee. Ini pak, saya kerja freelance mencari nasabah kartu kredit Bank xxx, bagaimana status rejekinya halal apa haram?, terus saya suka memboncengi cewek yang suka minta bonceng, bagaimana hukumnya?" Kata Deden
"Karena Bank xxx itu bukan Bank Syariah, kemudian MUI sudah mengharamkan bunga Bank, maka saya mengkhawatirkan honor dari menjual kartu kredit menjadi syubhat, kalau bisa, sambil tetap kerja disitu, Deden mencari pekerjaan lain atau pindah ke Bank Syariah, atau kalau iman kuat langsung keluar dan mencari ganti yang lebih baik, insya Allah dapat" Kata Pak Ustadz sambil merapikan peci hajinya
"Kalau soal susah menolak cewek yang minta Bonceng bagaimana pak?"
"Apakah berduan saja? Kalau berduan saja akan menimbulkan fitnah dan godaan seharusnya Deden menolak cewek yang suka minta bonceng di Honda Jazz Deden" Kata Pak Ustadz
"Bukan Honda Jazz pak, tapi Honda Supra hehehe" Kata Deden
"Apalagi Honda Supra duduknya bisa nempel berdekatan,walaupun Mobil aw Honda Jazz juga rawan kalau cuma berduaan " Kata Pak Ustadz
Singkat Cerita…
Sejak Deden rajin mengikuti pengajian, ibadahnya rajin, dan rajin berdoa dan doanya terqabul, Deden akhirnya menikah.
Sejak menikah Deden malah jadi berani keluar dari Bank tersebut dan memilih bekerja wirausaha dengan penghasilan rata-rata / rizki yang malah lebih besar daripada jadi jongos Bank yang masih bersistem riba yang Deden tinggalkan.
Subhanallah, Deden, pernikahanmu menyelamatkanmu, dari pekerjaan riba yang tidak disukaimu.