di dunia ini (hampir) tidak ada yang bebas dari uang. Semuanya UUD, ujung-ujungnya duit!. Jadi apa pun profesi seseorang, belajar dan mengetahui rahasia uang hukumnya “wajib”. Apalagi sistem pendidikan di negeri ini belum memberikan pendidikan finansial secara memadai.
Karena urusan dunia ini begitu luas dan selalu berkembang maka Islam tidak
mengatur detail dengan aturan yang kaku. Nabi menyerahkan urusan dunia ini kepada
umatnya dengan bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Jadi urusan
bagaimana meraihnya dunia, bagaimana merekayasa untuk kesejahteraan adalah urusan
manusia, selama tidak melanggar ketentuan AlQuran dan Hadits.
Itulah pentingnya belajar, terutama belajar tentang keuangan karena di dunia ini (hampir) tidak ada yang bebas dari uang. Semuanya UUD, ujung-ujungnya duit!. Jadi apa pun profesi seseorang, belajar dan mengetahui rahasia uang hukumnya “wajib”. Apalagi sistem pendidikan di negeri ini belum memberikan pendidikan finansial secara memadai.
Bahkan saya berani mengatakan sebagian besar sarjana, master sampai doktor belum
tentu memiliki Kecerdasan Keuangan sebanding dengan pendidikannya. Tidak ada jaminan pula kalau mereka memiliki pemahaman finansial yang lebih baik dibanding orang yang hanya lulusan SD, SMP atau SMA.
Karena pendidikan formal tidak mengajarkan ‘melek’ finansial, maka timbullah
banyak pandangan keliru tentang keuangan, diantaranya adalah :
1. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi penghasilan. Apa memang begitu
adanya? Apakah orang berpendidikan tinggi (minimal sarjana), selalu memperoleh
pekerjaan layak dan gaji tinggi sehingga hidupnya sejahtera?. Tentu tidak demikian
adanya. Pendidikan tidak identik dengan pekerjaan layak karena toh nyatanya
banyak pengangguran intelektual. Banyak sarjana yang penghasilannya jauh lebih
kecil dari lulusan SD - yang mampu belajar dari ‘sekolah kehidupan’ ini – dan sukses
menjadi pengusaha. Akibat persepsi yang keliru, maka niat sekolah bagi sebagian
besar orang hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Sekolah dan ijasah dianggap
sebagai barang investasi dan jaminan mendapatkan pekerjaan sehingga orang yang
tidak berpendidikan tinggi berarti tidak memiliki investasi dan masa depannya
suram. Semuanya jadi kebalik-balik!. (Baca pula buku Kaya Tanpa Bekerja /
Republika, 2004, sub bab : Sekolah, Buah Simalakama?)
2.
Penghasilan tinggi, kehidupan aman= Pandangan seperti ini perlu diluruskan. Sudah
banyak kisah orang berpenghasilan tinggi, tetapi kehidupannya berakhir tragis
karena salah mengelola uang. Salah satunya Mike Tyson yang sudah saya sebutkan
diawal. Seseorang akan aman atau tidak finansialnya tidak hanya tergantung tinggi
rendahnya penghasilan. Keputusan yang sangat menentukan adalah untuk apa
penghasilan itu dibelanjakan. Apakah konsumtif saja atau untuk membeli aset yang
menambah nilai dan memberikan passive income?. Bila sebagian besar penghasilan
yang diterima untuk membeli kebutuhan konsumtif, hasil akhirnya adalah ‘investasi’
di toilet. Sebaliknya bila untuk ditabung, investasi dan membeli barang produktif
maka hasil akhirnya adalah kesejahteraan.
3.
Uang adalah segalanya karena bisa menjamin keamanan hidup. Kenyataannya
banyak orang memiliki uang banyak tetapi justru takut kehilangan uangnya. Merasa kekurangan terus, sehingga harus menumpuk-numpuk uang. Setelah uang
terkumpul, tetap saja tidak membuat hidupnya aman. Yang terjadi sekarang takut
miskin kembali!. Ini menunjukkan bahwa uang bukanlah garansi. Kemampuan
mendapatkan uang, jauh lebih berharga daripada uang banyak tetapi tidak
diimbangi keahlian mengelola dan mendapatkan uang. Buktinya, banyak anak orang
kaya jatuh miskin kembali setelah ditinggalkan orang tuanya, meski dengan harta
berlimpah.
4.
Kekayaan identik dengan kemewahan. Sebenarnya kemewahan adalah satu hal dan
kekayaan adalah hal lain. Dalam buku The Millionaire Next Door tulisan Thomas J
Stanley dan William D. Danko disebutkan bahwa sebagian besar milyuner di Amerika
hidupnya penuh dengan kesederhanaan bahkan tidak mencerminkan sebagai
seorang milyuner.
Dalam hidup ini, kalau seandainya kita diberikan umur sampai dengan 65 tahun, maka
kita dapat membaginya menjadi 3 (tiga) fase yaitu :
Umur 0 – 25 tahun : Masa Belajar secara formal (sekolah)
Umur 26 – 40 tahun : Masa Produktif (bekerja)
Umur 41 – 65 tahun : Masa menikmati
Kalau seseorang ingin menikmati hidup lebih baik dengan waktu lebih, harus
benar - benar memperhatikan fase kehidupan tersebut. Tentu kita tidak mau mengalami
seperti kebanyakan orang yang menikmati kehidupan hanya pada saat - saat mendekati
ajal (usia lanjut). Jangan pernah lagi memiliki persepsi yang keliru bahwa menikmati
hidup adalah setelah pensiun. Memang kebanyakan orang menetapkan tujuan – tujuan
keuangannya untuk dinikmati saat pensiun, umur 55 tahun. Kesalahan inilah yang
kemudian menyebabkan seseorang untuk tidak banyak berpikir dan hanya bekerja
santai. Paradigma itu harus diubah. Kalau bisa pensiun muda, mengapa harus pensiun
tua? Lebih cepat pensiun (tidak terikat pekerjaan) tentu lebih baik.
Langkah pertama agar kita mampu meraih hal itu adalah belajar tentang
Kecerdasan Keuangan. Semakin awal belajar tentang finansial, Insya Allah semakin besar
kesempatan meraih keberkahan finansial. Dalam bab - bab selanjutnya kita akan
berdiskusi tentang rahasia uang, bagaimana merencanakan keuangan dan bagaimana
memanfaatkan uang untuk keperluan kita dan bukan kita yang ‘dimanfaatkan’ oleh uang
atau dikekang oleh uang.
Disarikan dari Sumber: buku keberkahan finansial