Sesungguhnya Jaga image itu harus, tapi bukan Jaga image yang bermakna berbohong, berdalih atau mencari alasan untuk menutup2pi kekurangan dan memamer2kan kelebihan.
Orang beriman harus menjaga image dirinya dengan menjaga kebersihan pakaiannya dan hatinya.
“Dan pakaianmu, bersihkanlah.”
Rekan cybermq…yang Allah sayangi
Perbedaan orang beriman dan orang musyrik ialah soal kebersihan lahir dan batin (jiwa), orang musyrik (tak beriman) setiap hari melakukan dosa, karena mereka banyak yang tidak melakukan istinja setiap setelah buang air kecil, dan jiwanya rusak pada penyembahan hal-hal dunia.
Namun Orang beriman diperintahkan berusaha sekuat tenaga agar meninggalkan perbuatan dosa
“Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah”
Dengan meninggalkan perbuatan dosa maka dengan sendirinya image kita tetap terjaga, tanpa perlu Ja im (jaga image dalam arti berbohong cari-cari alasan).
Agar image tetap terjaga dengan sendirinya, maka senantiasa kita harus
- Menjaga Kesucian Diri
- Menjaga Kesucian Kemaluan
- Menjaga Kesucian Harta
- Menjaga KesucianAmanah
Menjaga Kesucian Diri (Jiwa)
Kunci kebahagiaan ialah dengan mensucikan diri dengan mengingat dan memujiNYA, sehingga lebih mengutamakan mengingat akhirat
“Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya lalu mengingat Tuhannya dan memuji-Nya.
Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Yang ini, sungguh ada pada suhuf terdahulu suhuf Ibrahim dan Musa.” (QS al-A’la : 14-17).
“Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan dirinya. Celakalah orang yang mencemarinya.” (QS asy-Syams : 9-10)
Menjaga Kesucian Kemaluan
Muslim wajib menjaga kemaluannya dengan cara tidak mendekati zina (menjauhi pacaran/berduaan/berkhalwat). Agar tercegah dari tergelincir berbuat zina betulan.
Di Masa Lalu, Ada kisah wanita yang sampai tergelincir berbuat zina, wanita itu memilih mensucikan diri.
Seorang wanita yang menyesal berzina itu menemui Rasulullah dan wanita itu berkata :
يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْ نِيْي
"Ya Rasulullah, aku telah berzina (dinodai seorang pria), maka sucikanlah (hukumlah) aku." HR Muslim dan Abu Dawud
wanita itu meminta Rasulullah menghukumnya dengan hukuman rajam (dilempari batu sampai mati).
Rasulullah menolaknya dan menyuruhnya datang keesokan harinya. Esoknya ia datang lagi, meyakinkan Rasul bahwa ia telah hamil.
“Pulanglah, sampai engkau melahirkan anakmu.”” kata Rasullah,
Setelah dia melahirkan, dia datang lagi dengan menggendong Bayi merah yang dibungkus dengan kain.,
“Pulanglah, susuilah anakmu sampai engkau sapih.” Rasul menolak menghukumnya
Setelah dua tahun, ia datang kembali dengan bayi dan sekerat roti.
"Ini ya Rasulullah, sudah aku sapih, dan ia sudah makan makanan."
Rasulullah shallallahu�alaihi wa sallam lalu menyuruh seorang Sahabat merawat anak wanita itu. Lalu Beliau menetapkan hukum rajam pada wanita itu.
Akhirnya dengan pengadilan dan syarat yang ketat, Hukuman yang berat dan menumpahkan darah itu dilaksanakan.
Ketika darah wanita itu terciprat dan mengenai wajah Khalid, Khalid memaki wanita itu.
Rasulullah marah dan berkata
“Celaka kau, Khalid.
Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, wanita itu telah taubat dengan suatu taubat (yang suci) sehingga sekiranya ada pendosa besar dengan taubatnya Allah akan mengampuni dosanya.”
Wanita itu tidak tenang hidup dengan menanggung dosa sehingga dia memilih menyucikan dirinya dengan hukum rajam. Ia memilih taubat.
Menjaga Kesucian Harta
Membayar Kewajiban zakat, Memberikan harta/makan kepada orang miskin apalagi yang anak yatim,
Orang yang menjaga harta itu tidak mengharap ucapan terima kasih kecuali hanya mengharap ridha Allah.
Rekan cybermq…yang Allah sayangi, mari renungi
"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.
Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.
(QS Al-Insan 5-12)
Menjaga Kesucian Amanah
Bila mendapat jabatan, kepanitiaan atau amanah apapun, maka wajib menjaganya dari penyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi yang bisa merusak kesucian dan citra diri.