Suami Istri Tetap Harus Malu

"malu ah bang, jangan di sini dong, kan banyak yang lihat tuh,

jangan norak kayak ABG pacaran, kita kan muslim juga sikap dong"

bisik istri sambil pelan2 melepas rangkulan suaminya yang masih norak :)

 

“setelah menikah mereka merasa sudah halal merdeka, lalu melampiaskannya dengan gaya mesra mirip ABG pacaran? bermesraan tanpa rasa malu, di-mall, di atas motor, di bawah pohon, di pinggir jalan.”

 

komentator Note ini boleh beda pendapat menjawab judul di atas, misal:

 

  • Emang Siapa yang larang?
  • Mengaku dan bergaya aktivis dakwah jalan di mall, siapa yang larang?
  • Emang nggak pantas tuh, masak aktivis dakwah jalan ke mall bergaya pacaran walau dengan istri/suaminya.

 

 

so:

"Aktivis Dakwah" jalan-jalan di mall? sambil berangkulan dengan istri/suaminya?, memamerkan kemesraan?.

 

Bukankah mereka biasanya (seharusnya) lebih utama jalan ke majelis taklim?

Bukankah mereka biasanya (seharusnya)  malu memamerkan kemesraan di depan umum?

 

Apakah parade kemesraan di mall itu tanda pelampiasan rasa iri ketika melihat orang pacaran, dahulu saat mereka bujangan?, karena saat itu mereka nggak berani bikin dosa berangkulan karena blum nikah.

 

Setelah mereka menikah,  mereka langsung melampiaskannya dengan berkata "hore... Kami sudah halal berangkulan bermesraan di mall seperti ABG pacaran, kami sudah “halal” karena kami sudah menikah.

 

*sekalian saja mereka tempel buku nikahnya di dada mereka saat jalan berangkulan berdua di mall, supaya orang se-mall tahu bahwa mereka sudah nikah bukan pacaran.

 

mengapa banyak kejadian begitu?

 

Bisa jadi hal itu terjadi karena mereka meneruskan kebiasaan mereka dahulu yang sembunyi-sembunyi pacaran, lalu setelah menikah mereka merasa sudah halal merdeka, lalu melampiaskannya dengan gaya mirip ABG pacaran? bermesraan tanpa rasa malu, di-mall, di atas motor, di bawah pohon, di pinggir jalan.

 

tanpa mempedulikan tempat umum, dan di depan gadis, bujangan, duda janda yang sedang susah berusaha mendapat jodoh?

 

Sebatas yang Saya tahu dari guru ngaji, sahabat Nabi mengetahui Nabi bertindak mesra kepada istrinya sampai ucapan "yaa humaira". guru ngaji belum pernah mengajarkan hadits bahwa sahabat pernah melihat Nabi rangkulan memamerkan kemesraan pada istrinya di depan para sahabatnya, di dipan umum, di pasar dan di depan sahabat yang masih bujang.

 

 

 

istri yang masih punya malu ketika dirangkul dipeluk mesra oleh suami di mall

 

akan berkata "malu ah bang, jangan di sini dong, kan banyak yang lihat tuh,

jangan norak kayak ABG pacaran, kita kan muslim juga sikap dong"

bisik istri sambil pelan2 melepas rangkulan suaminya yang masih norak :)

 

"oh iya ntar para bujang yang lihat kita bs tambah galau" kata si suami

 

Buat yang sudah nikah jangan berangkul2 di dpn umum, walau sudah halal, tapi hrs punya malu, jangan mentang2 halal lgsung demonstrasi rangkulan di dpn umum dan kamera utk umum spt abg pacaran yang urat malunya mau copot

 

parade kemesraan itu juga yang bikin para lajang-ers jengah, cemburu dan iri.

 

Wajarlah para bujang dan gadis iri dengan pasangan yang sudah menikah, Karena para suami istri itu dengan noraknya (demonstratif) memamarkan kemesraannya, akibatnya akan terjadi penularan, saat si bujang sukses menikah, maka dia akan melampiaskan kemesraannya membuat  iri kepada bujang/gadis yang belum nikah juga.

 

Beragam pendapat sesuai pikiran masing masing, padahal semua pendapat harus ada rujukannya dan patokannya, merujuk ke siapa, pendapat pribadi atau hadist nabi?

 

 just renungan

 

"Bila Kau Sudah Tidak Punya Malu Lagi,

Lakukan Saja Apa Yang Kamu Suka"

(Alhadits)

· ·· Share · Delete

 



Bila Permintaan Belum Dikabulkan

 

Sahabat setia itu ialah sebuah buku mengingatkan pembaca agar pembacanya

"Terus berdoa dan berusaha sampai terqabul, lalu berdoa dan berusaha lagi"

 

Seorang kawan berkata:

"Subhanallah... terima kasih diingatkan"

 

Seorang kawan bertanya

"Tetapi kalao gak terkabul terus bgmn nih pak ....?

 

Buku itu bisa menjawab: berprasangka baiklah doa kita akan terqabul, 

kalau doa belum terqabu, mari  hitung nikmat2 pngganti yg lain yg mungkin lupa dirasakan: 

  • keimanan, 
  • kesehatan, 
  • keluarga akur, aman, 
  • uang ada, 
  • pekerjaan ada, dsb

Seorang kawan bertanya lagi

  • Tapi tetep yg diminta blum dikasih bagaimana?

 

Jgn skali2 brkata "kok blm dikasih?"

tetapi brsabarlah, krn Allah yg maha tahu kpn waktu yg tepat shg "indah pd waktunya",

bnyk org minta cepat tp malah "gundah pd waktunya"

 

Seorang kawan menjawab

 

"kembali ke Allah yang maha mengetahui apa yang manusia tidak ketahui

-----------

Perintah wajib berdoa dan bila malas berdoa bisa dianggap sombong

 

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’”.

(QS. Al-Mukmin 40: 60)

 

Hadits Larangan tergesa-gesa dalam menunggu terkabulnya doa

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

 

“Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu ia mengatakan, ‘Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan’.”

 

(Mutaffaqun ‘alaih)

 

 

 

Referensi buku doa, buku bagus untuk dijadikan sahabat setia

 

doa

 

Info Buku Kisah2 Taaruf lucu dan unik

 

Judul Buku: Jaka Taaruf Sinopsis: Kumpulan kisah lucu Mas Dudung dan Bang Kampleng bertaaruf berkali kali, diluar logika manusia biasa, terjadi di tahun 2000-an berikut masa kecilnya di depok Tahun 1980-an Genre : Faction (Fact & Fiction) campuran Kisah nyata yang disamarkan untuk privasi pelakunya dan kisah fiksi dengan bumbu humor. . Kandungan Gizi: mengandung gizi hikmah dengan rujukan AlQuran dan Hadits Kertas: Imported Book Paper Tebal: 91 Halaman Tanpa ISBN Harga Rp.39.000 (belum ongkos kirim untuk pemesan jarak jauh) Sebagian Keuntungan untuk menambah biaya koleksi dan operasional rumahbaca Berminat, Hubungi Inbox atau 021 993 67 327 (Depok)

Bab I

Bab II Foto Asli disamarkan Cerita Asli disamarkan

Bab Ketemu Kopi Darat Foto Asli disamarkan Cerita Asli disamarkan

 ·  ·  · Share · Delete

 

Tiada Orang Yang Tak Galau

bedanya, ada orang yang segera tenang, saat galau datang, lho kok bisa?

cari penyebabnya,orang akan tenang bila

  1. berkemampuan membedakan yang benar dan yang salah, lalu memilih yang benar.
  2. yakin ada jalan keluar
  3. yakin pd rizki dari arah yang diluar hitungan
  4. yakin akan ada kemudahan urusan.

 

saat manusia meningkat ketaqwaannya maka dia akan tenang karena, orang taqwa itu mendapatkan petunjuk (Furqaan) yaitu kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, lalu memilih yang benar.

 

  •  

    kata siapa?

    kok nanya?
  •  

    ada di Al Anfal 29:

     

    29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan [607]. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

     

    Furqan Artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

At-Thalaq ; 2

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka - sangka

 

 

reff

 

org taqwa tenang hidupnya *ref:

Al Anfal: 29 taqwa dpt furqan (ptunjuk memilih yg benar)

 

 

hasilnya ada di Al A'raf 96

dpt jalan keluar, 

dpt rejeki diluar perhitungan

di at thalaq 2

kemudahan dlm urusan di ayat 4

Orang Indonesia Banyak Belum Mahir Bahasa Indonesia

Harus kita akui frown bahwa di antara kita masih banyak yang belum mahir berbahasa indonesia, yang ada mahir berbahasa gaul bahkan bahasa alay smiley

Berikut
Bahasa Indonesia yang baik dan benar

Meskipun sudah sering didengar, ternyata belum semua orang memahami makna istilah “baik dan benar” dalam berbahasa. Tidak semua bahasa yang baik itu benar dan sebaliknya, tidak semua bahasa yang benar itu baik. Tentunya yang terbaik adalah bisa berbahasa dengan baik dan benar. Untuk dapat melakukannya, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan baik dan benar tersebut.

 

Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa harus dapat efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara. Karenanya, laras bahasa yang dipilih pun harus sesuai.

Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.

  1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
  2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
  3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
  4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
  5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.

Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut.

  1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti.
  2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang.
  3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini.
  4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/.
  5. Penggunaan kalimat secara efektif. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku sebenarnya mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.

Dari semua ciri bahasa baku tersebut, sebenarnya hanya nomor 2 (kata baku) dan nomor 4 (lafal baku) yang paling sulit dilakukan pada semua ragam. Tata bahasa normatif, ejaan resmi, dan kalimat efektif dapat diterapkan (dengan penyesuaian) mulai dari ragam akrab hingga ragam beku. Penggunaan kata baku dan lafal baku pada ragam konsultatif, santai, dan akrab malah akan menyebabkan bahasa menjadi tidak baik karena tidak sesuai dengan situasi.

Jika saya perhatikan, semakin tidak benar bahasa saya sewaktu menulis atau berbicara, berarti semakin akrab hubungan saya dengan lawan bicara saya. Maaf, Mas Amal, saya belum bisa memenuhi imbauan untuk menggunakan bahasa yang benar di seluruh kicauan saya. Tapi saya usahakan untuk menggunakan bahasa yang baik.

Dan coba bayangkan kalau saya melakukan surel-menyurel dengan ragam resmi di Kampung. Bisa-bisa saya di-ban oleh Mbah Jambul.

 

Copas dari http://ivanlanin.wordpress.com/2010/03/15/bahasa-indonesia-yang-baik-dan-benar/

Mengapa Kadang Kita Marah Bila Diingatkan?

 

Penulis: Anas Rumahbaca

Marah, Ngambek, Ketus, Itulah tanda bahwa kita merasa tidak perlu diingatkan lagi, kita merasa sudah pintar dan kita anggap orang yang mengingatkan itu tidak lebih pintar.

na'udzubillahi min dzalik

Siapa yang patut kita contoh soal ingat mengingatkan? Khalifah Umar bin Khaththab, RA, yang menerima peringatan, kritikan dari siapapun dan walaupun peringatan itu dengan kata yang tidak halus.

 
Beda dengan orang masa kini, banyak orang ketika diingatkan dengan kata yang halus, mereka tetap saja marah, ngambek, ngeles dan sebagainya.

Contoh sederhana, para perokok yang merokok di tempat umum seperti di angkot, di bus, di sekolah, di klinik, di kantor dan tempat umum lainnya
 
 
ketika diingatkan ada sebagian yang marah marah , ngembek atau berkata ketus pada orang yang memperingatkan. padahal peringatan itu sudah berulang dan ada di bungkus rokok.
bahkan di poster-poster peringatan bahaya merokok untuk perokok aktif maupun pasif (orang yang menghirup asapnya di sekitar perokok)
 
Contoh yang lainnya masih banyak, saat manusia memberi peringatan sesuai Al Quran dan Hadits, ada sebagian dari mereka marah marah ngambek dan ketus secara berulang ulang  
 
 
 
 
 
 
padahal peringatan itu akan terus ada berulang ulang

akankah mereka marah dan lari 
berulang-ulang?

17.41 Peringatan itu berulang-ulang
 
Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).
 
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلا نُفُورًا
 
1 ·  ·